Sabtu, 18 Januari 2020

Awas... Ada Virus Baru Stok Lama Menjangkiti Para Guru





Virus merupakan sesuatu yang sangat dikhawatirkan moleh banyak orang. Banyak ragam penyakit yang disebabkan oleh serangan virus. Bahkan dalam film-film fiksi ilmiah, virus digambarkan sebagai sesuatu yang sangat mengerikan dan menakutkan serta mengancam kehidupan manusia di planet biru ini. Oleh karena itu, para ahli pun berusaha mati-matian untuk mengatasi dan menaklukkan sang virus.

“Tapi tenang saja, Bro! Virus yang Penulis maksud di sini bukanlah virus jahat seperti umumnya virus. Melainkan sebuah virus yang telah ditularkan oleh para master Blogger, Kompasianer dan guru pembelajar yang sangat luar biasa. Yaitu, virus menulis di blog.”  

“Hahaha... pasti tak menyangkanya bukan? Yaps.. itulah virus baru stok lama”. Artinya sebagai seorang guru, tentu saja aktifitas membaca dan menulis adalah sebuah keharusan bahkan kebutuhan. Guru yang tidak mau mengupdate ilmunya dengan banyak membaca, tentu saja akan menjadi kudet (kurang update), sehingga mereka akan ditinggalkan oleh para siswa milenialnya yang serba up to date. Begitu juga bila guru tidak menulis, maka betapapun banyak dan mendalamnya ilmu yang dikuasai, maka hanya akan menumpuk di dalam kelapanya (kepala maksudnya, Sob. Hehehe). Bukankah ada tipikal siswa yang lebih paham dan mengerti ketika membaca sebuah tulisan dari pada mendengar gurunya berkhutbah? Atau ada juga tipikal guru yang tulisannya lebih mudah dicerna dari pada uraian ceramahnya? Hal itu tentu bisa diatasi dengan menuliskannya, baik di media cetak maupun media online seperti blog yang sedang digemari oleh kalangan milenial nan serba digital saat ini.

Untuk mengasah kemampuan menulis para guru di seantero nusantara, maka Bapak Wijaya Kusumah yang akrab dipanggil dengan Omjay, mengajak para guru untuk mengikuti sebuah kelas menulis secara online melalui group WA. Setelah mendatangkan seorang Penulis handal bernama Dedi Dwitagama, kemudian Omjay mengundang Mas Agus Sampurno yang juga Penulis hebat. Di hari berikutnya, Omjay menghadirkan Kang Dudung. Yaps... siapa juga yang tidak kenal dengan beliau. Beliau merupakan Pengurus PGRI pusat dan juga seorang Penulis nan aktif bahkan karena tulisannya pernah diundang oleh Presiden Joko Widodo untuk bertemu dan berbincang langsung dengannya. Tentu saja disertai dengan acara makan-makan dong, Sob. Masa iya cuma ngobrol doang, alias maota kariang. Amazing Kan?

Dalam memberikan materinya Kang Dudung menggunakan ilmu padi, yaitu semakin berisi semakin merunduk. Beliau tidak sombong bahkan selalu merendahkan diri dalam penyampaiannya. Salah satu inti sari yang beliau sampaikan adalah, menulis merupakan upaya meningkatkan kesehatan diri. Hal ini memang sangat logis. Betapa banyak orang stress dan cenderung lebih tua dari usianya. Karena banyaknya beban hati dan pemikiran yang tidak tersalurkan. Bila diceritakan kepada orang lain melalui omongan, belum tentu juga orang akan suka mendengarnya. Yang lebih parah lagi kalau kegalauan hati kita justeru berbalik menyudutkan kita sendiri. Maka, dengan menuliskannya, seseorang seperti telah membersihkan gorong-gorong yang tersumbat di dalam hati dan fikirannya sehingga tidak terjadi banjir bandang di dalam dirinya seperti yang menimpa beberapa kota di negeri kita akhir-akhir ini.

Menulis menambah rezeki persahabatn di antara kita, bahkan banyak juga penulis yang berhasil mengumpulkan pundi-pundi fulus dengan mulus. Menulis juga menunjukkan kemanusiaan kita. Menulis adalah mengurai kegalauan. Menulis adalah media perjuangan. Menulis adalah orgasme perspektif genuine kita. Menulis adalah memberi sesuatu pada diri dan pembaca. Demikian sebagaimana yang dituturkan oleh Kang Dudung di dalam chattnya. Menurut beliau, menulis itu juga ibadah sehingga ilmu kita menjadi ilmu yang bermanfaat dan berfaedah dunia akhirat.

Terakahir, Kang Dudung juga menyampaikan bahwa seorang penulis harus berkomiten untuk menyediakan waktu untuk menulis. Mencatat hal-hal unik di sekitar, mencatat ide-ide yang berseliweran di kepala dan mewujudkan menjadi sebuah tulisan. Karena bila ide tidak dituliskan, maka ia akan pergi dan menjauh. Hmmmm... jadi ibarat sumur kali ya, Kang? Kalau airnya tidak ditimba, maka air yang ada di dalam sumur tidak akan bertambah volume dan kejernihannya. Sebaliknya, jika airnya ditimba dan dipergunakan, maka akan muncul air-air baru yang lebih banyak dan jernih.

Itulah review yang bisa saya berikan dari uraian materi yang disampaikan Kang Dudung, semoga bermanfaat bagi kita semua.

Kalau ada sumur di ladang, bolehlah kita menumpang mandi
Kalau ada umur yang panjang, nanti tulisannya diperbaharui lagi...

4 komentar: