Selasa, 21 Januari 2020

Saat Kesehatan Lebih Berharga Dari Pada Harta


Tulisan ini ditulis ketika sedang mengantri di sebuah Rumah Sakit di Kota Solok. Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari cerita di bawah ini. jangan lupa berikan krissan ya, Sob...!



Seorang laki-laki berbaju putih khas duduk di kursi, di depan meja kerjanya. Di hadapannya sudah duduk pula seorang laki-laki muda dengan pakaian yang agak lusuh karena jauhnya perjalanan yang ditempuh menuju Rumah Sakit.

Pasien   : “Bagaimana Hasilnya, Dok?”
Dokter : “Hhmmmm...”
Jawabannya singkat sambil mengernyitkan keningnya. Sambil menghela nafas panjang, Dokter menjelaskan keadaan pasiennya.
Dokter : “Jadi begini, sebenarnya kamu cuma kangker aja.”
Pasien   : “Serius, Dok? Kok pake cuma segala?”
Dokter : “Lha iya, maksudnya kantong kering... kalau jiwa ragamu sih sehat, dan itu yang patut kamu syukuri. Ingat kesehatan itu lebih bernilai dan berharga dari apa pun yang kamu miliki saat ini.”
Pasien   : “Kok dokter tau aja, ya?”
Dokter : “Lha... kan kamu yang cerita tadi! Masa sudah lupa pula?” Rumah, kredit. Mobil, kredit. Motor, kredit. Modal usaha, kredit. Cuma isterimu saja yang tunai, kan?
Pasien   : “Iya juga ya, Dok. Sekarang memang lagi besar pasak dari pada tiangnya, Dok”

Dokter : “Makanya, menjaga kesehatan itu lebih penting dalam kehidupan ini. Ingat! Uang bukanlah segalanya. Jika dibandingkan dengan kesehatan, maka uang tidak akan bernilai dan berharga lagi. Coba kamu bayangkan orang yang tidak bisa bernafas dengan lega karena asma misalnya. Butuh banyak alat bantu dan biaya yang tidak sedikit, agar ia bisa menghirup udara segar yang sebenarnya sudah Tuhan sediakan dengan gratis di alam ini.”

Pasien : “Tapi banyak juga yang tidak menyadarinya ya, Dok...”
Dokter : “Tepat sekali ! coba kamu bayangkan, seandainya ada orang yang tidak bisa buang angin saja, maka dibutuhkan biaya berjuta-juta agar bisa buang angin sebagaimana mestinya. Lha... sekarang malah banyak yang buang angin sembarang. Kan tidak bersyukur sekali namanya!”

Pasien : Wah... ulama juga dokter ini rupanya! Salut saya, Dok.”
Dokter : “Saya bukan Ulama, saya hanya sering mendengarkan pengajian dan membaca buku-buku agama. Bagaimanapun juga, penyakit fisik itu banyak yang berawal dari ketidak-seimbangan di dalam jiwa. Mungkin karena stres memikirkan ekonomi keluarga, sibuk mencari uang  sampai lupa sembahyang. Sibuk olah raga tapi lupa berdo’a. Sibuk bekerja dari pagi, siang, sore sampai malam bahkan sampai pagi lagi, tapi lupa menemui-Nya dan beribadah kepada-Nya. Padahal dunia dan seisinya ini kan milik Dia. Kenapa tak minta kepada Dia?”
Pasien   : “Iya, Dok.”

Dokter : “Satu hal lagi, jangan lupa juga bersedekah. Jangan hanya bersepeda saja. Zakat juga. Karena ia akan mengeluarkan racun-racun yang ada dalam harta kita. Ingat, dalam harta yang kita usahakan dan peroleh itu, ada hak-hak orang lain, karib-kerabat, fakir miskin, anak yatim, orang-orang terlantar, dan sebagainya. Jika itu tidak dikeluarkan, maka datangnya penyakit fisik itu hanya akan menunggu waktu saja. Ibarat bom waktu yang siap meledak kapan saja.”
Pasien : “Iya Dok, Saya akan mengingat baik-baik nasehat dokter. Semoga kesehatan yang dianugerahkan ini bisa lebih membuat kita mendekatkan diri kepada Sang Maha Pemberi kesehatan itu sendiri. Kalau sudah sakit, jangan mengerjakan amalan yang sunat, yang wajib saja akan sulit. Bersuci pun akan lebih sulit lagi.”

Dokter : “Ok. Selamat melanjutkan aktifiasnya, ya! Jangan lupa untuk rutin puasa sunat, sebagai salah satu cara dan ibadah penjaga kesehatan kita.”
Pasien : “Terima kasih banyak ya, Dok.”
Dokter : “Ya, sama-sama.”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar