Tulisan ini ditulis ketika sedang mengantri di sebuah Rumah Sakit di Kota Solok. Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari cerita di bawah ini. jangan lupa berikan krissan ya, Sob...!
Seorang laki-laki berbaju putih
khas duduk di kursi, di depan meja kerjanya. Di hadapannya sudah duduk pula
seorang laki-laki muda dengan pakaian yang agak lusuh karena jauhnya perjalanan
yang ditempuh menuju Rumah Sakit.
Pasien : “Bagaimana Hasilnya, Dok?”
Dokter : “Hhmmmm...”
Jawabannya
singkat sambil mengernyitkan keningnya. Sambil menghela nafas panjang, Dokter
menjelaskan keadaan pasiennya.
Dokter : “Jadi begini, sebenarnya kamu cuma kangker aja.”
Pasien : “Serius, Dok? Kok pake cuma segala?”
Dokter : “Lha iya, maksudnya kantong kering... kalau jiwa ragamu sih sehat,
dan itu yang patut kamu syukuri. Ingat kesehatan itu lebih bernilai dan
berharga dari apa pun yang kamu miliki saat ini.”
Pasien : “Kok dokter tau aja, ya?”
Dokter : “Lha... kan kamu yang cerita tadi! Masa sudah lupa pula?” Rumah,
kredit. Mobil, kredit. Motor, kredit. Modal usaha, kredit. Cuma isterimu saja
yang tunai, kan?
Pasien : “Iya juga ya, Dok. Sekarang memang lagi besar pasak dari pada
tiangnya, Dok”
Dokter : “Makanya, menjaga kesehatan itu lebih penting dalam kehidupan ini.
Ingat! Uang bukanlah segalanya. Jika dibandingkan dengan kesehatan, maka uang
tidak akan bernilai dan berharga lagi. Coba kamu bayangkan orang yang tidak
bisa bernafas dengan lega karena asma misalnya. Butuh banyak alat bantu dan
biaya yang tidak sedikit, agar ia bisa menghirup udara segar yang sebenarnya
sudah Tuhan sediakan dengan gratis di alam ini.”
Pasien : “Tapi banyak juga
yang tidak menyadarinya ya, Dok...”
Dokter : “Tepat sekali ! coba
kamu bayangkan, seandainya ada orang yang tidak bisa buang angin saja, maka
dibutuhkan biaya berjuta-juta agar bisa buang angin sebagaimana mestinya. Lha...
sekarang malah banyak yang buang angin sembarang. Kan tidak bersyukur sekali namanya!”
Pasien : Wah... ulama juga
dokter ini rupanya! Salut saya, Dok.”
Dokter : “Saya bukan Ulama,
saya hanya sering mendengarkan pengajian dan membaca buku-buku agama. Bagaimanapun
juga, penyakit fisik itu banyak yang berawal dari ketidak-seimbangan di dalam
jiwa. Mungkin karena stres memikirkan ekonomi keluarga, sibuk mencari uang sampai lupa sembahyang. Sibuk olah raga tapi
lupa berdo’a. Sibuk bekerja dari pagi, siang, sore sampai malam bahkan sampai
pagi lagi, tapi lupa menemui-Nya dan beribadah kepada-Nya. Padahal dunia dan
seisinya ini kan milik Dia. Kenapa tak minta kepada Dia?”
Pasien : “Iya, Dok.”
Dokter : “Satu hal lagi, jangan lupa juga bersedekah. Jangan hanya
bersepeda saja. Zakat juga. Karena ia akan mengeluarkan racun-racun yang ada
dalam harta kita. Ingat, dalam harta yang kita usahakan dan peroleh itu, ada
hak-hak orang lain, karib-kerabat, fakir miskin, anak yatim, orang-orang
terlantar, dan sebagainya. Jika itu tidak dikeluarkan, maka datangnya penyakit
fisik itu hanya akan menunggu waktu saja. Ibarat bom waktu yang siap meledak
kapan saja.”
Pasien : “Iya Dok, Saya akan
mengingat baik-baik nasehat dokter. Semoga kesehatan yang dianugerahkan ini
bisa lebih membuat kita mendekatkan diri kepada Sang Maha Pemberi kesehatan itu
sendiri. Kalau sudah sakit, jangan mengerjakan amalan yang sunat, yang wajib
saja akan sulit. Bersuci pun akan lebih sulit lagi.”
Dokter : “Ok. Selamat melanjutkan
aktifiasnya, ya! Jangan lupa untuk rutin puasa sunat, sebagai salah satu cara
dan ibadah penjaga kesehatan kita.”
Pasien : “Terima kasih banyak
ya, Dok.”
Dokter : “Ya, sama-sama.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar