Virus merupakan sesuatu yang
sangat dikhawatirkan moleh banyak orang. Banyak ragam penyakit yang disebabkan
oleh serangan virus. Bahkan dalam film-film fiksi ilmiah, virus digambarkan
sebagai sesuatu yang sangat mengerikan dan menakutkan serta mengancam kehidupan
manusia di planet biru ini. Oleh karena itu, para ahli pun berusaha mati-matian
untuk mengatasi dan menaklukkan sang virus.
“Tapi tenang saja, Bro! Virus yang
Penulis maksud di sini bukanlah virus jahat seperti umumnya virus. Melainkan sebuah
virus yang telah ditularkan oleh para master Blogger, Kompasianer dan guru
pembelajar yang sangat luar biasa. Yaitu, virus menulis di blog.”
“Hahaha... pasti tak
menyangkanya bukan? Yaps.. itulah virus baru stok lama”. Artinya sebagai
seorang guru, tentu saja aktifitas membaca dan menulis adalah sebuah keharusan
bahkan kebutuhan. Guru yang tidak mau mengupdate ilmunya dengan banyak membaca,
tentu saja akan menjadi kudet (kurang update), sehingga mereka akan
ditinggalkan oleh para siswa milenialnya yang serba up to date. Begitu juga
bila guru tidak menulis, maka betapapun banyak dan mendalamnya ilmu yang
dikuasai, maka hanya akan menumpuk di dalam kelapanya (kepala maksudnya,
Sob. Hehehe). Bukankah ada tipikal siswa yang lebih paham dan mengerti
ketika membaca sebuah tulisan dari pada mendengar gurunya berkhutbah? Atau ada
juga tipikal guru yang tulisannya lebih mudah dicerna dari pada uraian
ceramahnya? Hal itu tentu bisa diatasi dengan menuliskannya, baik di media
cetak maupun media online seperti blog yang sedang digemari oleh kalangan
milenial nan serba digital saat ini.
Untuk mengasah kemampuan menulis para
guru di seantero nusantara, maka Bapak Wijaya Kusumah yang akrab dipanggil dengan
Omjay, mengajak para guru untuk mengikuti sebuah kelas menulis secara online
melalui group WA. Setelah mendatangkan seorang Penulis handal bernama Dedi
Dwitagama, kemudian Omjay mengundang Mas Agus Sampurno yang juga Penulis hebat.
Di hari berikutnya, Omjay menghadirkan Kang Dudung. Yaps... siapa juga yang
tidak kenal dengan beliau. Beliau merupakan Pengurus PGRI pusat dan juga
seorang Penulis nan aktif bahkan karena tulisannya pernah diundang oleh
Presiden Joko Widodo untuk bertemu dan berbincang langsung dengannya. Tentu saja
disertai dengan acara makan-makan dong, Sob. Masa iya cuma ngobrol doang, alias
maota kariang. Amazing Kan?
Dalam memberikan materinya Kang
Dudung menggunakan ilmu padi, yaitu semakin berisi semakin merunduk. Beliau tidak
sombong bahkan selalu merendahkan diri dalam penyampaiannya. Salah satu inti
sari yang beliau sampaikan adalah, menulis merupakan upaya meningkatkan
kesehatan diri. Hal ini memang sangat logis. Betapa banyak orang stress dan
cenderung lebih tua dari usianya. Karena banyaknya beban hati dan pemikiran
yang tidak tersalurkan. Bila diceritakan kepada orang lain melalui omongan,
belum tentu juga orang akan suka mendengarnya. Yang lebih parah lagi kalau
kegalauan hati kita justeru berbalik menyudutkan kita sendiri. Maka, dengan
menuliskannya, seseorang seperti telah membersihkan gorong-gorong yang
tersumbat di dalam hati dan fikirannya sehingga tidak terjadi banjir bandang di
dalam dirinya seperti yang menimpa beberapa kota di negeri kita akhir-akhir ini.
Menulis menambah rezeki persahabatn
di antara kita, bahkan banyak juga penulis yang berhasil mengumpulkan
pundi-pundi fulus dengan mulus. Menulis juga menunjukkan kemanusiaan kita. Menulis
adalah mengurai kegalauan. Menulis adalah media perjuangan. Menulis adalah
orgasme perspektif genuine kita. Menulis adalah memberi sesuatu pada diri dan
pembaca. Demikian sebagaimana yang dituturkan oleh Kang Dudung di dalam chattnya.
Menurut beliau, menulis itu juga ibadah sehingga ilmu kita menjadi ilmu yang
bermanfaat dan berfaedah dunia akhirat.
Terakahir, Kang Dudung juga
menyampaikan bahwa seorang penulis harus berkomiten untuk menyediakan waktu
untuk menulis. Mencatat hal-hal unik di sekitar, mencatat ide-ide yang
berseliweran di kepala dan mewujudkan menjadi sebuah tulisan. Karena bila ide
tidak dituliskan, maka ia akan pergi dan menjauh. Hmmmm... jadi ibarat sumur
kali ya, Kang? Kalau airnya tidak ditimba, maka air yang ada di dalam sumur
tidak akan bertambah volume dan kejernihannya. Sebaliknya, jika airnya ditimba
dan dipergunakan, maka akan muncul air-air baru yang lebih banyak dan jernih.
Itulah review yang bisa saya
berikan dari uraian materi yang disampaikan Kang Dudung, semoga bermanfaat bagi
kita semua.
Kalau ada sumur di ladang,
bolehlah kita menumpang mandi
Kalau ada umur yang panjang,
nanti tulisannya diperbaharui lagi...

Mantap pak zulkifli...
BalasHapusMantaap, Pak Zul
BalasHapusUiih mantap
BalasHapusTerima Kasih Sahabatku semuanya... Semoga Bermanfaat
BalasHapus