Akhir-akhir ini UAS semakin terkenal dan semakin banyak diperbincangkan
di berbagai media. Namun, UAS yang penulis maksud bukanlah sang guru kita,
Ustaz Abdul Somad, Lc. MA, tetapi yang penulis maksud adalah Ujian Akhhir
Semester. Walaupun sekarang namanya sudah berganti lagi menjadi Penilaian Akhir
Semester (PAS).
“Lalu, ada apa dengan UAS ini?”
Marilah kita simak beberapa hal di bawah ini.
Dok. Pribadi
Pertama, pertama ujian akhir semester sering menjadi sebuah momok
bagi para siswa. Tak sedikit siswa bahkan guru yang ikut stress apabila
dihadapkan pada ujian. Pembelajaran yang direncakanakan dan disusun sedemikian
rupa dari awal semester, toh ujung-ujungnya berorientasi pada keberhasilan
dalam menjawab soal-soal yang akan ujikan di akhir semester. Siswa dianggap berprestasi
dan guru dianggap berhasil apabila siswanya mampu menjawab soal ujian dengan
baik dan benar. Bahkan sebelum ujian dilaksanakan guru dan siswa sibuk membahas
soal-soal ujian sebelumnya serta kisi-kisi masing-masing mata
pelajarannya. Namun, satu hal patut kita
renungkan bersama adalah : “Apakah tujuan utama dari pendidikan dan proses
pembelajaran itu “hanya” untuk menjawab soal-soal ujian itu?”
Kedua, ujian itu lebih kepada mengukur keimanan siswa ketimbang
mengukur kemampuannya. “Lho, apa hubungannya?” bagi mereka yang
benar-benar yakin akan pengawasan Allah dan juga para malaikatnya (ini termasuk
dua diantara rukun iman) tentu saja mereka akan melaksanakan ujian dengan penuh
kejujuran. Tak tergerak di hatinya untuk melakukan berbagai kecurangan yang
bisa saja dilakukan di saat ujian. Walaupun ada guru pengawas di ruang ujian,
namun tentu saja mereka juga manusia biasa yang tak luput dari kelengahan dalam
pengawasan ujian. Bagi yang imannya lemah, tentu saja dia tidak akan merasa dan
menyadari bahwa dia diawasi oleh Tuhan yang tidak pernah terkantuk, tertidur apalagi
lalai dalam pengawasan-Nya.
Ketiga, kebenaran vs kebetulan. Siswa yang benar-benar belajar dan
mampu memahami materi yang dijarkan dengan baik, tentu saja akan bisa menjawab
soal-soal ujian dengan benar dan tepat. Sementara itu, tak sedikit pula siswa
yang mampu menjawab dengan betul walaupun hanya karena kebetulan saja. bahkan
yang lebih parahnya lagi, ada siswa yang sudah belajar bersungguh-sungguh,
namun karena kemampuannya yang terbatas, serta kejujurannya yang tinggi
akhirnya dia tidak dapat menjawab soal dengan benar. Sementara itu, siswa yang
bisa “berpandai-pandai” dalam menjalani ujian, maka dia bisa menjawab
dengan betul walaupun hanya karena kebetulan saja. Jadi, kita sebenarnya menginginkan
yang mana ? apakah sebuah kebetulan yang belum tentu betul ? Atau sebuah
kebenaran yang sudah pasti benar ?
Keempat, mahal dan langkanya kejujuran dalam ujian. Di zaman yang semakin canggih ini, kejujuran
menjadi sesuatu yang sudah sulit untuk ditemukan. Ibarat mencari jarum di
tumpukan jerami. Semakin canggih teknologi, maka orang akan semakin mudah
berbuat ketidak jujuran, tak terkecuali ketika ujian berlangsung. Bila di zaman
dulu, para siswa yang ingin berbuat curang, hanya bermodalkan secarik kertas
ajaib yang disebut jimat, maka dengan teknologi yang canggih, maka tingkat
kecurangan itu juga bisa semakin canggih pula. Mungkin melalui headset yang
terpasang di telinga dan diputar melalui bluetooth, atau dengan menfoto
beberapa bagian buku yang penting, menscreenshootnya atau menggunakan aplikasi
tertentu secara rahasia dan sembunyi-sembunyi. Walaupun kedengarannya masih
mustahil, tapi hal ini perlu diwaspadai. Mengingat bahwa para pelajar justeru
terkadang lebih melek teknologi dibanding dengan gurunya. Sehingga salah satu
yang sangat penting dan sangat mendesak untuk ditanamkan dan dipatrikan ke
dalam jiwa setiap peserta didik adalah memiliki sikap kejujuran. Baik ketika
tidak ada kesempatan untuk berbuat curang, maupun ketika situasi dan kondisi
memungkinkan untuk berbuat curang.
Kelima, pemanfaatan teknologi informasi dalam pelaksanaan ujian.
Beberapa tahun belakang ini, di negara kita sudah dipraktekkan pelaksanaan
ujian dengan menggunakan sistem komputerisasi. Mulai dari Ujian Nasional,
bahkan ujian seleksi penerimaan CPNS. Teranyar adalah penggunaan sebuah
aplikasi berbasis android bernama Si Pintar di beberapa daerah. Satu
hal yang perlu menjadi catatan bagi kita adalah, sejauh mana suatu sekolah di
suatu daerah siap dan mampu dalam pemanfaatan komputer, internet, bahkan
android dan sejenisnya untuk dipergunakan dalam pelaksanaan ujian. Hal itu
tentu tergantung kepada berbagai faktor. Diantaranya kesiapan dari sisi payung
hukumnya, sarana dan prasarananya, sumber daya manusianya dan tentu saja dana
operasionalnya. Bagi sekolah yang sudah maju, berada di perkotaan dan punya
kemampuan dan sarana prasarana yang mumpuni tentu saja tidak ada masalah. Lain
halnya dengan sekolah yang masih berkekurangan dari segi finansial, sarana
prasarana maupun SDMnya, apalagi yang terletak di daerah yang masih sulit
sinyal internetnya. Bahkan jangankan untuk berselancar ria di dunia maya, untuk
menelpon dan berkirim pesan singkat pun masih sangat sulit. Inilah sebuah
realita sekaligus tantangan dan rintangan di dunia pendidikan kita hari ini.
Keenam, tingkat efektifitas ujian sebagai alat ukur keberhasilan sebuah
proses pendidikan. Berdasarkan beberapa fakta di atas, maka hal terakhir yang
masih menjadi perdebatan di kalangan ahli pendidikan dan pengambil kebijakan
dalam bidang pendidikan adalah seberapa efektif sebuah ujian akhir semester
atau ujian akhir nasional mampu menilai dan mengukur keberhasilan proses
belajar mengajar itu sendiri. Sebagai contoh sederhana, ada siswa yang ketika
hari ujian dia mengalami berbagai masalah dalam kehidupan keluarganya, sehingga
seluruh energi, pemikiran bahkan emosinya tergerus oleh masalah tersebut.
Alhasil, dia mengikuti ujian tidak dalam kondisi yang seharusnya. Sehingga
hasil ujiannya akan kurang memuaskan bahkan cenderung gagal. Begitu juga kalau
ada yang sedang sakit misalnya, maka kemampuan berfikirnya pasti akan
terganggu. Sebaliknya ada siswa yang ketika belajar biasa-biasa saja bahkan
acuh tak acuh, tetapi karena “usaha dan keberuntungannya” dia mendapat
kunci jawaban atau minimal dapat contek dari temannya yang kebetulan jawabannya
benar, maka hasil ujiannya akan terlihat bagus. Mungkin masih segar di ingatan
kita tentang salah seorang siswa yang biasanya juara kelas, tetapi hasil ujian
akhirnya justeru tidak lulus. Walaupun di sisi lain masih ada siswa yang benar-benar
bersungguh-sungguh dalam belajar sehingga hasil ujiannya juga bagus dan lulus
dengan nilai terbaik.
Dok. Pribadi
Sebagai penutup, sebuah renungan bagi kita yang berprofesi sebagai
pendidik, tenaga kependidikan ataupun pengambil dan pembuat kebijakan di bidang
pendidikan adalah : “Mau di bawa kemana pendidikan kita ini?” Apakah
hanya mengajar dan mendidik siswa untuk pintar dan bisa menjawab soal-soal
tentang materi yang dipelajari?, ataukah kita ingin menanamkan nilai-nilai
akhlakul karimah di dalam jiwa peserta didik kita?, Ataukah peserta didikkita
akan menjadi orang yang semakin diajar, semakin kurang ajar? Akankah penanaman
IPTEK dan IMTAQ hanya menjadi sebuah jargon atau misi yang tidak pernah
berhasil? Tentu saja semua itu butuh keseriusan, kegigihan, keuletan, motivasi
yang kuat, kreatifitas tinggi serta inovasi yang tiada henti dan tentu saja
do’a yang tulus kepada sang Illahi.


dari judulnya sudah membuat ingin mampir, karena lagi hots
BalasHapusNamanya saja PAS pak Zuk. PAS itu sadang elok, tidak lebih dan tidak pula kurang.
BalasHapusMantap ustaz...👍
BalasHapusTerima kasih buk maria kusuma... Sudah berkunjung. Ikuti terus ya...
HapusBagus sekali ustadz ingin juga seperti ustadz bagi pengalamannya boleh tidak ustadz 🙏👍
BalasHapusBoleh... Ikuti terus blog ini ya, insya Allah, nanti akan diupdate terus. Mari saling berbagi ilmu dan pengalaman
Hapusmantap Ustadz....👍👍👍
BalasHapusTerima kasih pak Nilwan. Sukses selalu untuk kita bersama
BalasHapusTerima kasih buat Pembaca yang budiman, yang telah berkunjung ke blog ini. Ikuti terus ya, karena semangatnya adalah berbagi untuk sesama.
BalasHapus