Sabtu, 25 Januari 2020

Kita Tak Sezaman (Lain Dulu, Lain Sekarang)


Sangat menarik rasanya ketika membandingkan antara berbagai hal yang terjadi pada zaman dahulu dengan zaman sekarang. Dulu kita adalah seorang balita, sekarang sudah punya balita. Dulu kita adalah seorang cucu, sekarang kita sudah punya seorang cucu. Walaupun disinari oleh matahari yang sama sejak dahulu kala, tetapi sekarang sinarnya terasa sangat panas. Bukan matahari yang berubah, tetapi karena perubahan pada alam itu sendiri yang sebagian besarnya disebabkan oleh ulang tangan manusia itu sendiri. Dulu mungkin di sini adalah hutan lebat, sekarang hutannya sudah ditebang dan ditanami dengan gedung-gedung bertingkat yang lebat pula. Dahulu di sini adalah daerah lumbung beras karena banyak sawah yang ditanami padi, sekarang justeru masyarakat mulai kesulitan mendapatkan beras bahkan harus diimpor karena sawah yang subur tadi sudah ditamani perumahan dan pertokoan yang menjamur bak di musim hujan.


Agar tulisan ini tidak terlalu melebar kemana-mana, maka penulis akan mencoba membandingkan beberapa hal yang terjadi antara zaman dulu dengan zaman sekarang. Semoga kita bisa menjadikannya sebagai bahan renungan atau i’tibar dalam kehidupan kita sehari-hari.

Pertama, Listrik vs Lampu Corong. Lampu corong, atau ada juga yang menyebutnya dengan lampu togok merupakan alat penerangan sederhana pada zaman dahulu dengan menggunakan minyak tanah sebagai bahan bakarnya. Dalam sebuah rumah dahulunya, biasanya ada sebuah atau beberapa buah lampu corong sebagai penerangan di malam hari. Sehingga semua anggota keluarga mesti berkumpul di titik yang sama agar tidak berada dalam kegelapan. Alhasil, komunikasi antar sesama anggota keluarga pun terjalin dengan sangat baik. Ada acara makan bersama, berbagi cerita dan keluh kesah bersama, menyusun rencana hari esok bersama-sama dan berbagai kebersamaan lainnya. Sekarang dengan adanya lampu listrik, maka seluruh ruang yang ada di rumah sudah terang benderang, bahkan sampai ke ruangan pribadi masing-masing. Sehingga setiap anggota keluarga bisa saja duduk dan melaksanakan aktifitasnya sendiri di manapun di dalam rumah, bahkan di luar rumah. Alhasil, kehangatan dalam keluarga mulai berkurang. Setiap orang akan asyik dengan dunianya masing-masing. Apalagi dengan kehadiran televisi. Dulu satu rumah Cuma punya satu TV, sehingga anggota keluarga masih bisa secara bersama-sama menonton acara yang sama. Para orang tua pun bisa dengan mudah mengontrol apa yang ditonton anak-anaknya. Sekarang sudah ada beberapa TV dalam sebuah rumah, bahkan TV sudah ada di setiap kamar penghuninya. Apalagi dengan adanya jaringan internet yang jauh lebih canggih dari TV, maka para orang tua akan lebih kesulitan lagi mengontrol apa yang ditonton dan disaksikan oleh anak-anaknya.

Kedua, Guru vs Murid. Dahulu keberadaan guru sangat langka. Sehingga murid harus berjalan bahkan pindah ke daerah di mana sang guru tinggal agar bisa belajar kepada sang guru. Sekarang nyaris terbalik keadaannya. Karena banyaknya murid dan terbatasnya guru, maka seorang guru harus rela meninggalkan keluarganya, pergi subuh pulang menjelang magrib bahkan harus pindah domisili agar bisa mengajar murid-muridnya. Dahulu guru sangat dibutuhkan, dihormati, dijadikan suri tauladan dan kata-katanya dipegang melebihi undang-undang. Bahkan yang tak kalah ekstrimnya, murid bisa berebut sisa minuman guru demi mengharap berkah dari ilmu yag diajarkan guru. Sekarang justeru terbalik. Banyak dijumpai para pelajar yang justeru makin diajar makin kurang ajar. Beberapa orang guru harus merasakan dinginnya hotel pordeo karena dianggap ”terlalu keras” dalam mendidik muridnya. Didukung pula oleh sikap orang tua yang suka “managak an banang basah” terhadap anaknya. Sehingga kesalahan anak dianggap biasa-biasa saja, terus dibela bahkan gurunya dituntut hingga masuk penjara. Sungguh sebuah ironi yang sangat menyayat hati para guru. Bagaimana mungkin ilmu yang diajarkan bisa berkah dan bermanfaat kalau gurunya saja masih dipersekusi seperti itu.

Walaupun di satu sisi, ada juga terjadi perubahan pada guru zaman dahulu dengan sekarang. Dulu guru mempunyai ilmu yang mumpuni dan menguasai berbagai bidang ilmu sekaligus. Guru selalu belajar meningkatkan kompetensi yang dimilikinya. Sekarang ini, guru justeru dituntut dengan beraneka ragam administrasi pendidikan yang rumit dan membebani serta menguras energi, fikiran bahkan emosi. Sehingga nyaris tidak punya waktu lagi untuk mengembangkan kemampuan yang dimiliki karena besarnya tuntutan dari stake holder di bidang pendidikan.

Ketiga, kemajuan teknologi vs kemerosotan akhlak. Kemajuan teknologi sudah merambah berbagai ranah dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari permainan-permainan sederhana yang dulu dimainkan secara tradisional sekarang dimainkan dengan tekonologi yang mumpuni. Ketika dulu banyak permaianan yang hanya bisa dilaksanakan dengan cara bersama-sama sehingga anak-anak bisa belajar bersosialisasi antar sesamanya sambil bermain-main. Sekarang permainan sudah banyak yang tersedia dalam gadget. Sehingga setiap anak bermain dengan sendirinya, bahkan sampai lupa waktu dan bersikap anti sosial. Di samping itu, semakin canggihnya teknologi juga juga berdampak pada kemerosotan akhlak. Hal ini diilustrasikan dengan jok kendaraan sepeda motor. Dahulu jok sepeda motor rata dari depan sampai ke belakang, sekarang semakin canggih dan mahal sebauh motor maka joknya semakin tinggi di belakang dan rendah ke depannya. Akibatnya orang yang berboncengan di belakang mesti terdorong ke depan dan memeluk orang yang memboncengnya. Kalau yang dibonceng adalah pasangan sahnya, tentu saja tidak ada masalah. Lain halnya kalau yang dibonceng adalah pasangan yang belum sah (pacar atau orang lain), tentu saja sangat tidak sopan dan berakhlak namanya. Sehingga lahir lah sebuah istilah “lari motornya 40 KM/jam tapi pegangannya 100 KM/jam”.

Itulah tiga hal yang coba kita bandingkan antara zaman dulu dengan zaman sekarang. Tentu saja masih banyak hal-hal lain yang bisa kita perbandingkan. Tetapi yang terpenting adalah, bagaimana kita bisa menjadikan hari ini lebih baik dari pada hari kemarin. Dan hari esok lebih baik dari pada hari ini.

Selasa, 21 Januari 2020

Saat Kesehatan Lebih Berharga Dari Pada Harta


Tulisan ini ditulis ketika sedang mengantri di sebuah Rumah Sakit di Kota Solok. Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari cerita di bawah ini. jangan lupa berikan krissan ya, Sob...!



Seorang laki-laki berbaju putih khas duduk di kursi, di depan meja kerjanya. Di hadapannya sudah duduk pula seorang laki-laki muda dengan pakaian yang agak lusuh karena jauhnya perjalanan yang ditempuh menuju Rumah Sakit.

Pasien   : “Bagaimana Hasilnya, Dok?”
Dokter : “Hhmmmm...”
Jawabannya singkat sambil mengernyitkan keningnya. Sambil menghela nafas panjang, Dokter menjelaskan keadaan pasiennya.
Dokter : “Jadi begini, sebenarnya kamu cuma kangker aja.”
Pasien   : “Serius, Dok? Kok pake cuma segala?”
Dokter : “Lha iya, maksudnya kantong kering... kalau jiwa ragamu sih sehat, dan itu yang patut kamu syukuri. Ingat kesehatan itu lebih bernilai dan berharga dari apa pun yang kamu miliki saat ini.”
Pasien   : “Kok dokter tau aja, ya?”
Dokter : “Lha... kan kamu yang cerita tadi! Masa sudah lupa pula?” Rumah, kredit. Mobil, kredit. Motor, kredit. Modal usaha, kredit. Cuma isterimu saja yang tunai, kan?
Pasien   : “Iya juga ya, Dok. Sekarang memang lagi besar pasak dari pada tiangnya, Dok”

Dokter : “Makanya, menjaga kesehatan itu lebih penting dalam kehidupan ini. Ingat! Uang bukanlah segalanya. Jika dibandingkan dengan kesehatan, maka uang tidak akan bernilai dan berharga lagi. Coba kamu bayangkan orang yang tidak bisa bernafas dengan lega karena asma misalnya. Butuh banyak alat bantu dan biaya yang tidak sedikit, agar ia bisa menghirup udara segar yang sebenarnya sudah Tuhan sediakan dengan gratis di alam ini.”

Pasien : “Tapi banyak juga yang tidak menyadarinya ya, Dok...”
Dokter : “Tepat sekali ! coba kamu bayangkan, seandainya ada orang yang tidak bisa buang angin saja, maka dibutuhkan biaya berjuta-juta agar bisa buang angin sebagaimana mestinya. Lha... sekarang malah banyak yang buang angin sembarang. Kan tidak bersyukur sekali namanya!”

Pasien : Wah... ulama juga dokter ini rupanya! Salut saya, Dok.”
Dokter : “Saya bukan Ulama, saya hanya sering mendengarkan pengajian dan membaca buku-buku agama. Bagaimanapun juga, penyakit fisik itu banyak yang berawal dari ketidak-seimbangan di dalam jiwa. Mungkin karena stres memikirkan ekonomi keluarga, sibuk mencari uang  sampai lupa sembahyang. Sibuk olah raga tapi lupa berdo’a. Sibuk bekerja dari pagi, siang, sore sampai malam bahkan sampai pagi lagi, tapi lupa menemui-Nya dan beribadah kepada-Nya. Padahal dunia dan seisinya ini kan milik Dia. Kenapa tak minta kepada Dia?”
Pasien   : “Iya, Dok.”

Dokter : “Satu hal lagi, jangan lupa juga bersedekah. Jangan hanya bersepeda saja. Zakat juga. Karena ia akan mengeluarkan racun-racun yang ada dalam harta kita. Ingat, dalam harta yang kita usahakan dan peroleh itu, ada hak-hak orang lain, karib-kerabat, fakir miskin, anak yatim, orang-orang terlantar, dan sebagainya. Jika itu tidak dikeluarkan, maka datangnya penyakit fisik itu hanya akan menunggu waktu saja. Ibarat bom waktu yang siap meledak kapan saja.”
Pasien : “Iya Dok, Saya akan mengingat baik-baik nasehat dokter. Semoga kesehatan yang dianugerahkan ini bisa lebih membuat kita mendekatkan diri kepada Sang Maha Pemberi kesehatan itu sendiri. Kalau sudah sakit, jangan mengerjakan amalan yang sunat, yang wajib saja akan sulit. Bersuci pun akan lebih sulit lagi.”

Dokter : “Ok. Selamat melanjutkan aktifiasnya, ya! Jangan lupa untuk rutin puasa sunat, sebagai salah satu cara dan ibadah penjaga kesehatan kita.”
Pasien : “Terima kasih banyak ya, Dok.”
Dokter : “Ya, sama-sama.”


Senin, 20 Januari 2020

Ada Apa Dengan UAS??

Akhir-akhir ini UAS semakin terkenal dan semakin banyak diperbincangkan di berbagai media. Namun, UAS yang penulis maksud bukanlah sang guru kita, Ustaz Abdul Somad, Lc. MA, tetapi yang penulis maksud adalah Ujian Akhhir Semester. Walaupun sekarang namanya sudah berganti lagi menjadi Penilaian Akhir Semester (PAS). 
“Lalu, ada apa dengan UAS ini?”
Marilah kita simak beberapa hal di bawah ini.
Dok. Pribadi

Pertama, pertama ujian akhir semester sering menjadi sebuah momok bagi para siswa. Tak sedikit siswa bahkan guru yang ikut stress apabila dihadapkan pada ujian. Pembelajaran yang direncakanakan dan disusun sedemikian rupa dari awal semester, toh ujung-ujungnya berorientasi pada keberhasilan dalam menjawab soal-soal yang akan ujikan di akhir semester. Siswa dianggap berprestasi dan guru dianggap berhasil apabila siswanya mampu menjawab soal ujian dengan baik dan benar. Bahkan sebelum ujian dilaksanakan guru dan siswa sibuk membahas soal-soal ujian sebelumnya serta kisi-kisi masing-masing mata pelajarannya.  Namun, satu hal patut kita renungkan bersama adalah : “Apakah tujuan utama dari pendidikan dan proses pembelajaran itu “hanya” untuk menjawab soal-soal ujian itu?”
Kedua, ujian itu lebih kepada mengukur keimanan siswa ketimbang mengukur kemampuannya. “Lho, apa hubungannya?” bagi mereka yang benar-benar yakin akan pengawasan Allah dan juga para malaikatnya (ini termasuk dua diantara rukun iman) tentu saja mereka akan melaksanakan ujian dengan penuh kejujuran. Tak tergerak di hatinya untuk melakukan berbagai kecurangan yang bisa saja dilakukan di saat ujian. Walaupun ada guru pengawas di ruang ujian, namun tentu saja mereka juga manusia biasa yang tak luput dari kelengahan dalam pengawasan ujian. Bagi yang imannya lemah, tentu saja dia tidak akan merasa dan menyadari bahwa dia diawasi oleh Tuhan yang tidak pernah terkantuk, tertidur apalagi lalai dalam pengawasan-Nya.
Ketiga, kebenaran vs kebetulan. Siswa yang benar-benar belajar dan mampu memahami materi yang dijarkan dengan baik, tentu saja akan bisa menjawab soal-soal ujian dengan benar dan tepat. Sementara itu, tak sedikit pula siswa yang mampu menjawab dengan betul walaupun hanya karena kebetulan saja. bahkan yang lebih parahnya lagi, ada siswa yang sudah belajar bersungguh-sungguh, namun karena kemampuannya yang terbatas, serta kejujurannya yang tinggi akhirnya dia tidak dapat menjawab soal dengan benar. Sementara itu, siswa yang bisa “berpandai-pandai” dalam menjalani ujian, maka dia bisa menjawab dengan betul walaupun hanya karena kebetulan saja. Jadi, kita sebenarnya menginginkan yang mana ? apakah sebuah kebetulan yang belum tentu betul ? Atau sebuah kebenaran yang sudah pasti benar ?
Keempat, mahal dan langkanya kejujuran dalam ujian.  Di zaman yang semakin canggih ini, kejujuran menjadi sesuatu yang sudah sulit untuk ditemukan. Ibarat mencari jarum di tumpukan jerami. Semakin canggih teknologi, maka orang akan semakin mudah berbuat ketidak jujuran, tak terkecuali ketika ujian berlangsung. Bila di zaman dulu, para siswa yang ingin berbuat curang, hanya bermodalkan secarik kertas ajaib yang disebut jimat, maka dengan teknologi yang canggih, maka tingkat kecurangan itu juga bisa semakin canggih pula. Mungkin melalui headset yang terpasang di telinga dan diputar melalui bluetooth, atau dengan menfoto beberapa bagian buku yang penting, menscreenshootnya atau menggunakan aplikasi tertentu secara rahasia dan sembunyi-sembunyi. Walaupun kedengarannya masih mustahil, tapi hal ini perlu diwaspadai. Mengingat bahwa para pelajar justeru terkadang lebih melek teknologi dibanding dengan gurunya. Sehingga salah satu yang sangat penting dan sangat mendesak untuk ditanamkan dan dipatrikan ke dalam jiwa setiap peserta didik adalah memiliki sikap kejujuran. Baik ketika tidak ada kesempatan untuk berbuat curang, maupun ketika situasi dan kondisi memungkinkan untuk berbuat curang.
Kelima, pemanfaatan teknologi informasi dalam pelaksanaan ujian. Beberapa tahun belakang ini, di negara kita sudah dipraktekkan pelaksanaan ujian dengan menggunakan sistem komputerisasi. Mulai dari Ujian Nasional, bahkan ujian seleksi penerimaan CPNS. Teranyar adalah penggunaan sebuah aplikasi berbasis android bernama Si Pintar di beberapa daerah. Satu hal yang perlu menjadi catatan bagi kita adalah, sejauh mana suatu sekolah di suatu daerah siap dan mampu dalam pemanfaatan komputer, internet, bahkan android dan sejenisnya untuk dipergunakan dalam pelaksanaan ujian. Hal itu tentu tergantung kepada berbagai faktor. Diantaranya kesiapan dari sisi payung hukumnya, sarana dan prasarananya, sumber daya manusianya dan tentu saja dana operasionalnya. Bagi sekolah yang sudah maju, berada di perkotaan dan punya kemampuan dan sarana prasarana yang mumpuni tentu saja tidak ada masalah. Lain halnya dengan sekolah yang masih berkekurangan dari segi finansial, sarana prasarana maupun SDMnya, apalagi yang terletak di daerah yang masih sulit sinyal internetnya. Bahkan jangankan untuk berselancar ria di dunia maya, untuk menelpon dan berkirim pesan singkat pun masih sangat sulit. Inilah sebuah realita sekaligus tantangan dan rintangan di dunia pendidikan kita hari ini. 
Keenam, tingkat efektifitas ujian sebagai alat ukur keberhasilan sebuah proses pendidikan. Berdasarkan beberapa fakta di atas, maka hal terakhir yang masih menjadi perdebatan di kalangan ahli pendidikan dan pengambil kebijakan dalam bidang pendidikan adalah seberapa efektif sebuah ujian akhir semester atau ujian akhir nasional mampu menilai dan mengukur keberhasilan proses belajar mengajar itu sendiri. Sebagai contoh sederhana, ada siswa yang ketika hari ujian dia mengalami berbagai masalah dalam kehidupan keluarganya, sehingga seluruh energi, pemikiran bahkan emosinya tergerus oleh masalah tersebut. Alhasil, dia mengikuti ujian tidak dalam kondisi yang seharusnya. Sehingga hasil ujiannya akan kurang memuaskan bahkan cenderung gagal. Begitu juga kalau ada yang sedang sakit misalnya, maka kemampuan berfikirnya pasti akan terganggu. Sebaliknya ada siswa yang ketika belajar biasa-biasa saja bahkan acuh tak acuh, tetapi karena “usaha dan keberuntungannya” dia mendapat kunci jawaban atau minimal dapat contek dari temannya yang kebetulan jawabannya benar, maka hasil ujiannya akan terlihat bagus. Mungkin masih segar di ingatan kita tentang salah seorang siswa yang biasanya juara kelas, tetapi hasil ujian akhirnya justeru tidak lulus. Walaupun di sisi lain masih ada siswa yang benar-benar bersungguh-sungguh dalam belajar sehingga hasil ujiannya juga bagus dan lulus dengan nilai terbaik.
Dok. Pribadi
 
Sebagai penutup, sebuah renungan bagi kita yang berprofesi sebagai pendidik, tenaga kependidikan ataupun pengambil dan pembuat kebijakan di bidang pendidikan adalah : “Mau di bawa kemana pendidikan kita ini?” Apakah hanya mengajar dan mendidik siswa untuk pintar dan bisa menjawab soal-soal tentang materi yang dipelajari?, ataukah kita ingin menanamkan nilai-nilai akhlakul karimah di dalam jiwa peserta didik kita?, Ataukah peserta didikkita akan menjadi orang yang semakin diajar, semakin kurang ajar? Akankah penanaman IPTEK dan IMTAQ hanya menjadi sebuah jargon atau misi yang tidak pernah berhasil? Tentu saja semua itu butuh keseriusan, kegigihan, keuletan, motivasi yang kuat, kreatifitas tinggi serta inovasi yang tiada henti dan tentu saja do’a yang tulus kepada sang Illahi.

Sabtu, 18 Januari 2020

Awas... Ada Virus Baru Stok Lama Menjangkiti Para Guru





Virus merupakan sesuatu yang sangat dikhawatirkan moleh banyak orang. Banyak ragam penyakit yang disebabkan oleh serangan virus. Bahkan dalam film-film fiksi ilmiah, virus digambarkan sebagai sesuatu yang sangat mengerikan dan menakutkan serta mengancam kehidupan manusia di planet biru ini. Oleh karena itu, para ahli pun berusaha mati-matian untuk mengatasi dan menaklukkan sang virus.

“Tapi tenang saja, Bro! Virus yang Penulis maksud di sini bukanlah virus jahat seperti umumnya virus. Melainkan sebuah virus yang telah ditularkan oleh para master Blogger, Kompasianer dan guru pembelajar yang sangat luar biasa. Yaitu, virus menulis di blog.”  

“Hahaha... pasti tak menyangkanya bukan? Yaps.. itulah virus baru stok lama”. Artinya sebagai seorang guru, tentu saja aktifitas membaca dan menulis adalah sebuah keharusan bahkan kebutuhan. Guru yang tidak mau mengupdate ilmunya dengan banyak membaca, tentu saja akan menjadi kudet (kurang update), sehingga mereka akan ditinggalkan oleh para siswa milenialnya yang serba up to date. Begitu juga bila guru tidak menulis, maka betapapun banyak dan mendalamnya ilmu yang dikuasai, maka hanya akan menumpuk di dalam kelapanya (kepala maksudnya, Sob. Hehehe). Bukankah ada tipikal siswa yang lebih paham dan mengerti ketika membaca sebuah tulisan dari pada mendengar gurunya berkhutbah? Atau ada juga tipikal guru yang tulisannya lebih mudah dicerna dari pada uraian ceramahnya? Hal itu tentu bisa diatasi dengan menuliskannya, baik di media cetak maupun media online seperti blog yang sedang digemari oleh kalangan milenial nan serba digital saat ini.

Untuk mengasah kemampuan menulis para guru di seantero nusantara, maka Bapak Wijaya Kusumah yang akrab dipanggil dengan Omjay, mengajak para guru untuk mengikuti sebuah kelas menulis secara online melalui group WA. Setelah mendatangkan seorang Penulis handal bernama Dedi Dwitagama, kemudian Omjay mengundang Mas Agus Sampurno yang juga Penulis hebat. Di hari berikutnya, Omjay menghadirkan Kang Dudung. Yaps... siapa juga yang tidak kenal dengan beliau. Beliau merupakan Pengurus PGRI pusat dan juga seorang Penulis nan aktif bahkan karena tulisannya pernah diundang oleh Presiden Joko Widodo untuk bertemu dan berbincang langsung dengannya. Tentu saja disertai dengan acara makan-makan dong, Sob. Masa iya cuma ngobrol doang, alias maota kariang. Amazing Kan?

Dalam memberikan materinya Kang Dudung menggunakan ilmu padi, yaitu semakin berisi semakin merunduk. Beliau tidak sombong bahkan selalu merendahkan diri dalam penyampaiannya. Salah satu inti sari yang beliau sampaikan adalah, menulis merupakan upaya meningkatkan kesehatan diri. Hal ini memang sangat logis. Betapa banyak orang stress dan cenderung lebih tua dari usianya. Karena banyaknya beban hati dan pemikiran yang tidak tersalurkan. Bila diceritakan kepada orang lain melalui omongan, belum tentu juga orang akan suka mendengarnya. Yang lebih parah lagi kalau kegalauan hati kita justeru berbalik menyudutkan kita sendiri. Maka, dengan menuliskannya, seseorang seperti telah membersihkan gorong-gorong yang tersumbat di dalam hati dan fikirannya sehingga tidak terjadi banjir bandang di dalam dirinya seperti yang menimpa beberapa kota di negeri kita akhir-akhir ini.

Menulis menambah rezeki persahabatn di antara kita, bahkan banyak juga penulis yang berhasil mengumpulkan pundi-pundi fulus dengan mulus. Menulis juga menunjukkan kemanusiaan kita. Menulis adalah mengurai kegalauan. Menulis adalah media perjuangan. Menulis adalah orgasme perspektif genuine kita. Menulis adalah memberi sesuatu pada diri dan pembaca. Demikian sebagaimana yang dituturkan oleh Kang Dudung di dalam chattnya. Menurut beliau, menulis itu juga ibadah sehingga ilmu kita menjadi ilmu yang bermanfaat dan berfaedah dunia akhirat.

Terakahir, Kang Dudung juga menyampaikan bahwa seorang penulis harus berkomiten untuk menyediakan waktu untuk menulis. Mencatat hal-hal unik di sekitar, mencatat ide-ide yang berseliweran di kepala dan mewujudkan menjadi sebuah tulisan. Karena bila ide tidak dituliskan, maka ia akan pergi dan menjauh. Hmmmm... jadi ibarat sumur kali ya, Kang? Kalau airnya tidak ditimba, maka air yang ada di dalam sumur tidak akan bertambah volume dan kejernihannya. Sebaliknya, jika airnya ditimba dan dipergunakan, maka akan muncul air-air baru yang lebih banyak dan jernih.

Itulah review yang bisa saya berikan dari uraian materi yang disampaikan Kang Dudung, semoga bermanfaat bagi kita semua.

Kalau ada sumur di ladang, bolehlah kita menumpang mandi
Kalau ada umur yang panjang, nanti tulisannya diperbaharui lagi...