Rabu, 12 Februari 2020

Waspadai Fenomena Masjid Mengecil Lalu Membesar


Masjid merupakan rumah ibadah kita. Ukuran dan modelnya tentu saja berbeda-beda. Pengurus dan Jama'ah masjid selalu berusaha agar masjid semakin lama semakin bagus dan besar. Bahkan ada semacam statement bahwa masjid harus lebih indah dan megah dibandingkan dengan rumah kita sendiri. Hal itu merupakan salah satu bentuk pengamalan hadis Nabi :
Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ أَوْ أَصْغَرَ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ
Siapa yang membangun masjid karena Allah walaupun hanya selubang tempat burung bertelur atau lebih kecil, maka Allah bangunkan baginya (rumah) seperti itu pula di surga.” (HR. Ibnu Majah no. 738. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Fenomena seperti itu sudah lumrah. Namun ada sebuah fenomena yang yang sangat menggelitik kita sebagai ummat pemilik masjid. Yaitu ketika masjid yang semula mengecil kemudian membesar. Tentu saja bukan dari segi fisiknya. Melainkan dari sisi orang yang memandangnya.
Masjid dikatakan mengecil, ketika tidak sanggup lagi menampung jama'ah yang ingin beribadah di dalamnya. Sehingga teras bahkan tempat parkirnya pun disulap menjadi tempat ibadah jama'ah. Hal ini akan kita lihat ketika shalat jum'at, shalat tarawih di Bulan Ramadhan, shalat hari raya idul fitri dan idul adha atau kegiatan-kegiatan keagamaan tertentu. Masjid akan kelihatan kecil, karena membludaknya jama'ah yang datang.

Di lain waktu, bahkan inilah yang lebih sering terjadi adalah masjid yang tampak membesar lantaran tidak bisa dipenuhi oleh jama'ah yang hadir. Tak jarang jumlah tiang atau lampunya lebih banyak dari pada jama'ah. Bahkan ketika sebuah musyawarah dilaksanakan di masjid sekalipun. Pada waktu shalat berjama’ah, tak berapa orang peserta musyawarah yang ikut shalat. Setelah shalat selesai dan agenda rapat akan dimulai, barulah jama’ah musyawarah tersebut berdatangan dan dan masuk ke dalam masjid. Bahkan tanpa melaksanakan shalat tahiyatul masjid sekalipun, mereka langsung duduk dan berhaha-hihi di dalam masjid. 

Lalu, siapa dan apa yang salah ketika masjid yang tadinya mengecil kemudian membesar itu? Hmmm... jika kita hanya mencari siapa dan apa yang salah saja, tentu tidak akan menyelesaikan masalah. Justeru akan menambah rumit masalah bahkan memunculkan permasalahan yang baru.
Sebagai pengurus masjid, alangkah lebih bijaksananya jika kita tidak hanya memikirkan bagaimana masjid itu bertambah besar dan bagus fisiknya. Tapi bagaimana supaya jama’ahnya bertambah senang dan nyaman beribadah di dalamnya. Selain itu, bagaimana menarik jama’ah yang nonaktif menjadi jama’ah yang aktif dan proaktif di masjid.
Di sisi lain, sebagai jama’ah kita hendaknya juga tetap istiqamah dalam memakmurkan masjid sebagai salah satu tanda keimanan kita kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Sebagaimana Firman Allah dalam surat At Taubah ayat 18 :

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللّهِ مَنْ آمَنَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلاَةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلاَّ اللّهَ فَعَسَى أُوْلَـئِكَ أَن يَكُونُواْ مِنَ الْمُهْتَدِينَ ﴿١٨﴾
Artinya : Hanyalah yang memakmurkan mesjid-mesjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.

Kita sebaiknya juga tidak selalu menuntut pengurus untuk selalu memperbesar dan memperindah fisik masjid semata. Jangan pula kita beranggapan bahwa sedekah kita yang digunakan untuk pembangunan fisik masjid lebih bernilai dari pada sedekah untuk memakmurkan masjid tersebut. Terkadang, tidak sedikit jama’ah yang mengomel kepada pengurus lantaran sarannya untuk memegahkan masjid tidak kunjung dituruti oleh pengurus.
Bukannkah bermegah-megahan itu bisa menghancurkan kita sendiri sebagai ummat? Lihatlah fenomena masjid yang dibangun dengan dana ratusan juta bahkan milyaran rupiah, namun di sekitarnya kaum fakir miskin makin merana. Uang anak yatim yang jumlahnya sampai jutaan juga hanya mengendap di rekening pengurus masjid dan dibagikan pada waktu tertentu saja. Padahal mereka membutuhkannya di setiap waktu. 

Mungkin saja, dana untuk membeli lampu hias di masjid tersebut akan lebih bermanfaat jika digunakan untuk fakir miskin yang setiap harinya memakmurkan masjid itu. Oleh karena itu, sebagai pengurus dan jama’ah masjid marilah kita menghidupkan masjid, jangan malah mencari kehidupan di masjid. Dengan alasan ingin memperindah dan merenovasi masjid agar lebih bagus, lalu kita kecipratan bekerja di proyek tersebut, walaupun sebenarnya kita tidak punya keahlian yang handal tentang itu. Sehingga selalu saja terjadi biaya upah untuk renovasi bisa berlipat-lipat dari biaya bahan yang diperlukan. Yang mestinya selesai dalam hitungan hari, akhirnya selesai dan waktu berminggu-minggu bahkan berbula-bulan. 

Demikianlah fenomena yang sering melanda berbagai masjid di beberapa tempat. Semoga saja ada i'tibar yang bisa kita ambil, sehingga fenomena itu tidak terus berlanjut dan terjadi di masa yang akan datang.

Minggu, 02 Februari 2020

Kiat-Kiat Menulis di Media Cetak


Pemateri kita kali ini adalah salah seorang guru penggerak yang masih sangat muda. Namanya adalah Ramdhan Hamdhani, dari Subang Jawa Tengah. Seorang kepala Sekolah yang sangat aktif menulis di berbagai media offline maupun online. Bahkan sudah lebih dari 200-an artikelnya berhasil menembus meja redaksi berbagai koran dan majalah ternama.

Point pertama yang beliau sampaikan adalah tujuan dari aktifitas menulis itu sendiri, yaitu :
1.      Menulis merupakan Bentuk Aktualisasi Diri
2.      Menulis Sebagai Bagian Dari Profesionalisme
3.      Menulis Untuk Menambah Relasi
4.      Menulis sebagai Sarana untuk Menyampaikan Pendapat secara lebih beradab
5.      Menulis sebagai prasasti ataupun Kontrol (Literatur) Sejarah
6.      Menulis Sebagai Tiket Untuk Ikut Seminar / Pelatihan
7.      Menulis Dapat Mendatangkan Keuntungan Secara Finansial

Ponit kedua yaitu beberapa keuntungan ketika menulis di Media Cetak antara lain :
1.      Untuk Menunjukkan eksistensi diri
2.      Sebagai bukti bahwa kita benar-benar memahami bidang yg kita geluti
3.      Sebagai bagian dari penilaian kinerja (bagi ASN), ada kaitan dengan penambahan angka kredit untuk kenaikan pangkat dan golongan
4.      Sarana untuk memperkuat citra  lembaga
5.      Sebagai sarana untuk memberikan masukan kepada pengambil kebijakan
6.      Dapat dilakukan oleh siapa saja
7.      Untuk mendapatkan penghasilan tambahan

Lantas, bagaimana agar tulisan kita bisa dimuat di media cetak ?
Beliau menjelaskan beberapa kiat-kiatnya, seperti berikut ini :
1.      kenali karakteristik media cetak yang akan kita tembus. Maksudnya apakah media cetak tersebut bersifat umum ataukah hanya memuat berita atau artikel yang berkaitan dengan tema tertentu saja, misal media otomotif, hobby dan sebagainya
2.      Pahami ketentuan yang ditetapkan. Misalnya untuk opini umum minimal jumlah kata sebanyak 800-1000 kata dengan honor sebesar Rp.500.000. Adapun untuk tema pendidikan hanya diminta 400-450 kata dengan jumlah honor Rp.300.000 belum dipotong pajak artinya, ketentuan tersebut (jumlah kata) harus benar-benar diperhatikan
3.      Tulislah topik yang sedang hangat dibicarakan di tengah masyarakat.
4.      Tulisan hendaknya mengandung permasalahan serta solusinya.
5.      Penulis hendaknya memiliki sikap atau posisi yang jelas (tidak netral)
6.      Memperhatikan kaidah-kaidah penulisan yang berlaku. Pengunaan titik koma, huruf besar dan kecil mohon diperhatikan

Nah, ada beberapa alasan mengapa naskah kita tak kunjung dimuat antara lain :
a.      Tema yang dibahas sudah pernah dimuat pada edisi - edisi sebelumnya
b.      Tema yang diangkat bukan merupakan topik / isu hangat yang tengah didiskusikan
c.       Tulisan yang dibuat bisa jadi belum memenuhi kaidah-kaidah yang ditetapkan. Oleh karenanya saya menyarankan kepada ibu dan bapak sekalian sering - seringlah membaca artikel yang pernah dimuat di koran
d.      Mungkin Terlalu banyak data (statistik) yg dicantumkan
e.      Data yang digunakan mungkin sudah  tidak lagi relevan atau sudah usang

Adapun beberapa langkah yang harus dilakukan sebelum kita membuat tulisan adalah :
ü  Bacalah Beberapa Tulisan di Media Cetak. Agar kita memiliki bayangan tentang bentuk tulisan seperti apa yang diinginkan oleh pihak Redaktur.
ü  Tentukan tema atau topik yang akan diangkat
ü  Buatlah judul yang menarik
ü  Pahami sistematika penulisan

Nah, ternyata begitulah seluk beluk penulisan di media cetak seperti koran dan majalah. Benar-benar di luar gambaran saya selama ini. Memang, tidak mudah untuk menembus meja redaksi sebuah koran apalagi koran ternama tingkat nasional. Banyak hal-hal yang perlu diperhatikan. Bahkan beliau menceritakan pengalaman pertamanya ketika memasukkan tulisan ke sebuah redakasi koran pada tahun 2002 dahulu. Itupun ditolak oleh redaksi. Beliau sempat berhenti mengirim tulisan. Namun pada tahun 2013 lalu, beliau kembali mengirimkan tulisan ke redakasi koran. Tetap saja ditolak dengan berbagai alasan. Setelah tulisan beliau yang ke sepuluh, barulah tulisannya diterima dan dicetak di media cetak.

Semoga ini bisa memacu semangat kita semua untuk tidak pernah menyerah menggoda dewan redaksi sebuah koran atau majalah agar mau menerima dan menerbitkan surat cinta kita di koran atau majalahnya.